Ahli Berikan Penjelasan & Harap Tak Ada Klaim Dini Vaksin Nusantara Gagasan Mantan Menkes Terawan

Vaksin Nusantara untuk Covid 19 yang diperbincangkan diharapkan tidak diklaim terlalu dini. Hal ini diungkapkan dokter Juru Bicara Satgas Covid 19 RS Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dr Tonang Dwi Ardyanto. Vaksin Covid 19 Nusantara diprakarsai oleh mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto Universitas Diponergoro (Undip) Aivita Biomedical Corporation.

Terawan mengklaim Vaksin Nusantara merupakan bagi pasien komorbid memiliki penyakit penyerta. Dokter Tonang sebaiknya tidak ada klaim terlalu dini untuk Vaksin Nusantara. "Apakah tersebut akan terbukti? Mungkin saja, mungkin juga tidak, minimal sepenuhnya."

Seperti Kompas TV, Selasa (16/2/2021), Terawan menjelaskan Vaksin Nusantara menggunakan bahan serum darah dari masing masing individu. Vaksin Nusantara ini merupakan vaksin berbasis sel dendritik ( dendritic cell ). "Sebenarnya ide ini bukan hal baru. Sudah sejak 1990 an ide ada terutama untuk imunoterapi kanker," ungkap Tonang.

Vaksinasi l ini disebut Tonang bersifat personalized . "Bakal calon sel dendritik diambil seseorang, diolah, disuntikkan ke orang itu ." "Tidak bisa dari satu orang ke orang lain. Karena penolakan sebagaimana pada transplantasi jaringan," jelas Tonang.

Tonang rincian teknis vaksinasi jenis ini panjang. "Membutuhkan prasarana yang tidak sederhana, juga khusus pada SDM yang mengerjakannya," ungkap Tonang. Lebih lanjut, khusus di Indonesia, Tonang ide vaksin sel dendritik untuk Covid 19, sudah muncul sejak bulan November 2020 dan makin intensif pada bulan Desember.

"Sebagai suatu ide, kita hargai memang ide itu ada alasannya. Ada rujukannya kasus lain selain Covid. Tidak masalah." "Tapi ketika diklaim sebagai Vaksin Nusantara, 10 juta dosis per bulan, biaya kurang dari 200 ribu, antibodi seumur hidup, maka perlu dudukkan secara jernih." "Agar semua tetap sebisa mungkin rasional. menghambat inovasi, tapi menjaga tetap pada tempatnya," jelas Tonang.

Tonang menekankan, uji klinis sangat diperlukan untuk vaksinasi. "Bahkan vaksin Covid yang sudah melalui uji klinis dan sekarang dipakai pun, semua masih dalam koriodor uji saking memang tetap harus hati hati mengingat impact dan outcome yang diharapkan." "Jadi bahkan yang sudah uji klinik pada puluhan ribu subyek di fase 1, 2 dan sebagian dari periode fase 3 sekalipun, tetap masih harus dibuktikan efektivitasnya ketika digunakan di masyarakat," ungkap Tonang.

Sementara itu Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid 19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban memberi apresiasi atas inovasi baru dalam memecahkan masalah pandemi virus corona di Indonesia. Namun, ada beberapa catatan yang diberikan. Pertama, Zubairi belum melihat adanya keterbukaan data terkait Vaksin Nusantara.

Dilansir Kompas.com , sampai saat ini ia belum menemukan publikasi data di jurnal ilmiah terkait vaksin tersebut, meski akan memasuki uji klinis tahap 2. "Kalau ada penelitian penelitian baru, saya mendukung dan tertarik banget. Namun sebagai dokter, kita harus bicaranya terbuka mengenai data ilmiahnya," kata Zubairi kepada Kompas.com, Jumat (19/2/2021). "Sel dendritik ini kan sejak beberapa tahun lalu sudah dipikirkan untuk mengatasi kanker. Namun mengatasi penyakit infeksi saya baru denger sekarang. Jadi ini memang hal yang menarik," sambungnya.

Zubairi mengungkapkan, vaksin tersebut berpotensi mengharumkan nama Indonesia jika benar benar berhasil. Menurutnya Indonesia nanti akan dianggap sebagai perintis vaksin berbasis dendritik. Kedua, Zubairi melihat Vaksin Nasional sangat sulit untuk digunakan di masa darurat seperti saat ini.

Pasalnya, proses vaksinasi dari pengambilan darah hingga bisa disuntikkan kembali membutuhkan waktu berhari hari. "Tentu tidak mudah, sulit sekali. target pemerintah 800.000 per hari. Namun jika seandainya berhasil, ya welcome saja, tidak usah untuk ratusan ribu," jelasnya. "Yang penting adalah terbukti aman dan efektif yang menurut saya saat ini cukup data," lanjutnya.

Ketiga, Zubairi soal klaim Vaksin Nusantara menciptakan antibodi seumur hidup. Menurutnya, klaim tersebut membingungkan publik dan tidak disertai data. Bahkan, para ahli dunia pun belum bisa menjawab apakah antibodi yang dihasilkan vaksin Moderna, Sinovac, Pfizer tahan lama.

"Tidak ada itu klaim yang mereka sampaikan bahwa antibodi dari vaksin vaksin tersebut bisa bertahan enam bulan, satu tahun, apalagi seumur hidup," ujarnya. Zubairi menegaskan, penelitian vaksin tak hanya membutuhkan harapan, tetapi juga harus berdasar pada data.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Dibutuhkan Pengaturan Hukum Merek yang Memadai buat Terciptanya Perlindungan & Kepastian Hukum

Tue Feb 23 , 2021
Semakin meningkatnya perkembangan teknologi informasi, kegiatan di sektor perdagangan baik barang maupun jasa mengalami perkembangan yang sangat pesat, kecenderungan akan meningkatnya volume perdagangan barang dan jasa tersebut akan terus berlangsung secara terus menerus sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang semakin meningkat. Dengan melihat kecenderungan tersebut, dibutuhkan suatu pengaturan hukum merek […]